Agustina, Wali Kota Semarang Apresiasi Festival Cheng Ho Berlangsung Lebih Meriah

Monday 28 July 2025 0 comments mijen-33

Dari Tay Kak Sie kirab dimulai,
Ribuan peserta ikut berpawai.
Warna budaya berseri-seri,
Tanda Semarang rukun dan damai.    :)

SEMARANG – Suasana Kota Semarang akhir pekan ini benar-benar pecah! Festival Cheng Ho 2025 sukses digelar dengan kemeriahan yang luar biasa. Bertempat di Klenteng Agung Sam Poo Kong, event tahunan ini menjadi momen istimewa memperingati 620 tahun kedatangan Laksamana Cheng Ho ke nusantara. Nggak cuma meriah, festival ini juga menunjukkan kuatnya identitas Semarang sebagai kota yang plural, toleran, dan kaya budaya – siap bersaing di level nasional hingga internasional.

Minggu, 27 Juli 2025, ribuan orang memadati rute kirab budaya dari Klenteng Tay Kak Sie (Pecinan) menuju Sam Poo Kong. Total ada 15 klenteng yang ikut meramaikan, dengan estimasi 4.000–5.000 peserta berbusana etnik yang menari, memainkan alat musik, dan membawa atraksi budaya khas. Arak-arakan melewati jantung Kota Lama hingga Simongan, menghadirkan nuansa sejarah, spiritualitas, seni, dan semangat ekonomi kerakyatan lewat bazar UMKM dan panggung hiburan.

Wali Kota Semarang, Agustina, hadir langsung di tengah-tengah warga. Ia mengaku bangga dan terharu melihat antusiasme masyarakat.

“Tahun ini lebih meriah banget! Pesertanya makin banyak, masyarakatnya guyub banget. Tahun depan Pemkot siap turun langsung biar Festival Cheng Ho makin spektakuler,” ujar Bu Wali dengan semangat.

Nggak cuma itu, Bu Wali juga menyampaikan rencana besar untuk masa depan: pembangunan kembali jembatan rute karnaval dan pendirian Museum Maritim Cheng Ho di kawasan Kota Lama sebagai bagian dari jaringan kota-kota Jalur Sutra Maritim Dunia.

“Target kita 2026 lebih siap, dan 2027 Semarang bisa jadi tuan rumah event budaya internasional. Kita siapkan dari sekarang, dari infrastruktur sampai narasi sejarahnya,” tambahnya.

Ketua Yayasan Sam Poo Kong, Mulyadi Setiakusuma, juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat.

“Terima kasih untuk dukungan dari pemerintah pusat, provinsi, dan kota. Hadirnya utusan presiden dan Bu Wali itu bukti bahwa festival ini makin diperhitungkan,” ujarnya.

Menurut Mulyadi, Festival Cheng Ho bukan cuma perayaan, tapi juga momentum menjaga warisan budaya dan memperkuat toleransi.

“Ini bukan hanya milik satu komunitas, tapi milik semua warga Semarang. Kita punya tanggung jawab bareng-bareng untuk terus menjaga dan menghidupkan semangat keberagaman ini.”

Sebagai penutup, Festival Cheng Ho 2025 membuktikan satu hal: Semarang bukan cuma kota sejarah, tapi juga kota masa depan – penuh harmoni, terbuka untuk semua, dan siap mendunia.